<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ING NGARSO SUNG TULODHO</title>
	<atom:link href="http://sungtulodho.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sungtulodho.wordpress.com</link>
	<description>~ Perubahan besar bermula dari sebuah langkah kecil ~</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Nov 2007 01:37:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sungtulodho.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ING NGARSO SUNG TULODHO</title>
		<link>http://sungtulodho.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sungtulodho.wordpress.com/osd.xml" title="ING NGARSO SUNG TULODHO" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sungtulodho.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kepada Seorang Kawan</title>
		<link>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/20/kepada-seorang-kawan/</link>
		<comments>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/20/kepada-seorang-kawan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 01:24:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riretna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Suara Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/20/kepada-seorang-kawan/</guid>
		<description><![CDATA[Kawan, Aku sudah menghapus semua bukti bahwa kau telah mengenalku, sebagaimana permintaanmu. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami minta maaf atas semua yang tidak berkenan. Kami tidak bermaksud seperti itu, menjerumuskan teman sendiri. Tidak, tidak seperti itu. Kami juga tidak ingin menyakiti hati dan perasaan orang lain. Kami tak ingin ada yang tersakiti, serta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sungtulodho.wordpress.com&amp;blog=1965830&amp;post=11&amp;subd=sungtulodho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">Kawan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">Aku sudah menghapus semua bukti bahwa kau telah mengenalku, sebagaimana permintaanmu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami minta maaf atas semua yang tidak berkenan.<span> </span>Kami tidak bermaksud seperti itu, menjerumuskan teman sendiri.<span> </span>Tidak, tidak seperti itu. Kami juga tidak ingin menyakiti hati dan perasaan orang lain.<span> </span>Kami tak ingin ada yang tersakiti, serta tak ada niatan untuk menjadikan &#8216;korban&#8217; bagi pihak lain. Andai itu terjadi, kami mohon maaf. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">Kami hanya ingin menyuarakan ketidakberesan yang ada, dan mencoba menjadikannya pemicu, agar orang-orang di sini<span> </span>lebih membuka mata mereka akan ketidakberesan tersebut. Sekali lagi mohon maaf, kami tidak bertendensi apa pun.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">&#8220;Bagi kami KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span id="more-11"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">Memang berat untuk tetap ada pada jalur yang telah kami pilih. Mempertahankan sikap pada idealisme. Kami telah sadar akan konsekuensi dari itu semua sejak lama. Tapi kami tidak pernah takut akan hal itu. God has been already there! Dan kami pun tidak pernah berharap pada orang lain, agar bisa seberani itu. Yah…., hidup ini adalah suatu pilihan. Layaknya sebuah puzzle dan kita sendirilah yang memasangkannya pada rangka kehidupan ini. Ada kalanya bentuknya begitu beraturan, tapi tak jarang pula hanya tampak sebagai sebuah mozaik yang sangat tidak beraturan. Kitalah pejuang dalam hidup kita sendiri.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';">Coba<span style="color:black;"> simak penggalan berikut ini, mungkin Kamu tahu dan merasa tak asing lagi membacanya:</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">&#8220;Kadang-kadang saya merasa sedih. Saya merasa dia sangat menghargai saya, bahkan dia mengagumi keberanian saya dalam tulisan-tulisan saya. &#8230;. (namun itu) Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya.&#8221;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">&#8220;Seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang selalu sendirian. Mula-mula, kau membantu menggulingkan kekuasaan yang korup untuk menegakkan sebuah kekuasaan baru yang lebih baik. Tapi sesudah kekuasaan lain yang seperti itu, kau akan terasing lagi dan terlempar keluar dari sistem. Ini akan terjadi terus menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian; penderitaan&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">Sekian kawan, selamat berjuang! Keep on moving, keep on doing.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';color:black;">Sang Pejuang</span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sungtulodho.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sungtulodho.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sungtulodho.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sungtulodho.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sungtulodho.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sungtulodho.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sungtulodho.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sungtulodho.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sungtulodho.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sungtulodho.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sungtulodho.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sungtulodho.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sungtulodho.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sungtulodho.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sungtulodho.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sungtulodho.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sungtulodho.wordpress.com&amp;blog=1965830&amp;post=11&amp;subd=sungtulodho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/20/kepada-seorang-kawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2aa968766d7a21c3d4439d631a5ae893?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Riretna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Orang Miskin Menyubsidi Pemerintah?</title>
		<link>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/03/apakah-orang-miskin-menyubsidi-pemerintah/</link>
		<comments>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/03/apakah-orang-miskin-menyubsidi-pemerintah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Nov 2007 15:56:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riretna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/03/apakah-orang-miskin-menyubsidi-pemerintah/</guid>
		<description><![CDATA[Pada minggu lalu (23/10/2007), di tempat kuliah saya kedatangan seorang guest lecturer, ekonom terkenal dan kandidat nobelis dari Massachusetts Institute of Technology (kampus idaman saya. Saya akan berusaha untuk dapat duduk dan kuliah di sana). Dia datang untuk memberikan kuliah tentang kebijakan ekonomi makro khususnya tentang kebijakan welfare di Eropa. Dalam kuliah tersebut saya mencatat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sungtulodho.wordpress.com&amp;blog=1965830&amp;post=4&amp;subd=sungtulodho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';">Pada minggu lalu (23/10/2007), di tempat kuliah saya kedatangan seorang <em>guest lecturer</em>, ekonom terkenal dan kandidat nobelis dari Massachusetts Institute of Technology (kampus idaman saya. Saya akan berusaha untuk dapat duduk dan kuliah di sana). Dia datang untuk memberikan kuliah tentang kebijakan ekonomi makro khususnya tentang kebijakan <em>welfare</em> di Eropa. Dalam kuliah tersebut saya mencatat beberapa informasi penting, diantaranya adalah perkataan beliau “<em>Why should government pay subsidies to those parasites and lazy people who do not want to work and who thereby refuse to do their bit for the common good</em>?” Mendengar kata itu, saya langsung terperanjat dan teringat akan nasib orang-orang miskin di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span id="more-4"></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';">Saya tidak akan banyak memperdebatkan perkataan professor tersebut, karena dalam konteks Eropa hal itu memang terjadi. Dampak kebijakan yang terlalu <em>welfare</em> (memberikan subsidi kepada pengangguran), telah menyebabkan orang-orang Eropa kurang produktif dan terkesan sangat malas. Bayangkan, berdasarkan data Belanda (ini saya ambil dari bahan salah satu perkuliahan) hampir 25% penikmat subsidi (selanjutnya saya sebut <em>benefit claimants</em> [BC]) tidak mencari pekerjaan lagi dan hampir 15% dari BC menolak diberi pekerjaan. Sehingga dalam hal dan konteks Eropa (khususnya Belanda) saya sangat setuju terhadap perkataan professor tersebut bahwa pemerintah tidak seharusnya mensubsidi orang-orang malas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';">Setelah perkuliahan, saya menghampiri beliau hanya sekedar ingin mendiskusikan permasalahan Negara kita tercinta “Indonesia” dalam konteks bagaimana seharusnya pemerintah mengelola orang miskin. Hal inilah yang membuat saya termotivasi untuk menulis dan sekedar mengisi waktu akhir pekan saya disela-sela harus menyiapkan ujian pekan depan, dengan harapan agar kita semua menyadari hal ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';">Dalam diskusi kami, sang professor banyak bercerita tentang bagaimana pengalaman dia saat membaca buku “<em>Confession of an Economic Hit Man</em>” dan dia banyak mengetahui Indonesia dari sana, tentunya juga dari krisis ekonomi 1997 (ternyata sang professor banyak tahu tentang Indonesia). Lalu saya menanyakan bagaimana pendapat beliau tentang usaha pemerintah Indonesia untuk orang miskin? Di satu sisi professor tersebut banyak memberikan gambaran bagaimana pemerintah-pemerintah di negara berkembang lain khususnya Amerika Latin dalam mengelolah orang miskin, (misal pemerintah Brasil menerapkan kebijakan <em>basic income</em> untuk orang miskin), di sisi lain dia mengatakan bahwa pemerintah Indonesia benar-benar gak peduli dan <em>do nothing</em> buat orang miskin. Hal menarik yang saya ingat sambil dia tertawa adalah dia membalik kata yang dia ungkapkan di atas dengan “<em>Why should society pay taxes to this <a title="OLE_LINK1" name="OLE_LINK1"></a><a title="OLE_LINK2" name="OLE_LINK2"></a><span>corrupt</span> and lazy government who do not work for them?</em> Wow, ini adalah kalimat mutiara yang seharusnya menjadi bahan diskusi bagus buat kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';">Selamat menjadi orang Indonesia dan selamat membayar pajak. Kita memang seharusnya kritis dalam menyikapi hal ini. Dan kita seharusnya menanyakan kemana sebenarnya uang pajak kita. Jangan-jangan bangsa Indonesia akan lebih makmur kalo gak ada pemerintah, bener gak? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:'Tahoma','sans-serif';">Bagaimana pendapat Anda?</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sungtulodho.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sungtulodho.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sungtulodho.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sungtulodho.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sungtulodho.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sungtulodho.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sungtulodho.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sungtulodho.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sungtulodho.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sungtulodho.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sungtulodho.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sungtulodho.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sungtulodho.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sungtulodho.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sungtulodho.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sungtulodho.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sungtulodho.wordpress.com&amp;blog=1965830&amp;post=4&amp;subd=sungtulodho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/11/03/apakah-orang-miskin-menyubsidi-pemerintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2aa968766d7a21c3d4439d631a5ae893?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Riretna</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Masa Tuaku, Masa Tua Kita, Masa Tua Orang Indonesia?</title>
		<link>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/10/22/bagaimana-masa-tuaku/</link>
		<comments>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/10/22/bagaimana-masa-tuaku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 16:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>riretna</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sungtulodho.wordpress.com/2007/10/22/bagaimana-masa-tuaku/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya buat dini hari waktu Eropa. Saya dedikasikan untuk semua orang yang memilki rasa nasionalisme dan cinta terhadap masa depan Indonesia. Sedih…… sedih…… dan sedih melihat masa tua kita yang tidak pasti. Sebagian orang mungkin tidak merasa bahwa hidup di Indonesia adalah berdiri pada ketidakpastian akan masa tua kita. Kenapa hal itu bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sungtulodho.wordpress.com&amp;blog=1965830&amp;post=3&amp;subd=sungtulodho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Tulisan ini saya buat dini hari waktu Eropa. Saya dedikasikan untuk semua orang yang memilki rasa nasionalisme dan cinta terhadap masa depan Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Sedih…… sedih…… dan sedih melihat masa tua kita yang tidak pasti. Sebagian orang mungkin tidak merasa bahwa hidup di Indonesia adalah berdiri pada ketidakpastian akan masa tua kita. Kenapa hal itu bisa terjadi? Tentunya pernyataan ini berdasar bukti dan fakta yang jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-3"></span><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Berdasar hasil riset terbaru yang saya lakukan, tidak ada korelasi antara tingkat tabungan dan jumlah penduduk usia tua di Indonesia. Hampir professor saya tidak mempercayai kondisi ini (maklum kasus ini langka di negara maju). Why? Karena menurut teori ekonomi standar yang dikemas dalam “Life Cycle Hypothesis” menyatakan bahwa umur manusia itu dibagi dalam tiga kelompok, yakni: child, productive, dan elderly. Lebih lanjut menurut hipotesis ini bahwa pada masa tua semestinya akan terjadi penurunan tingkat tabungan (tentunya didukung bukti empiris di negara maju). Pada masa tua (mungkin juga masa tua saya nanti) kita tidak akan mampu menghasilkan banyak pendapatan, di lain sisi konsumsi kita akan bertambah karena kita akan sakit-sakitan yang tentunya akan membutuhkan banyak biaya perawatan. Pada saat itulah, pembiayaan hidup kita akan sangat bergantung pada seberapa banyak tabungan yang kita kumpulkan pada masa produktif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Terus apa penyebab tidak adanya korelasi antara tingkat tabungan dan usia tua di Indonesia? Sejumlah hipotesis dapat diungkapkan. Hipotesis pertama adalah mengenai rendahnya tingkat pendapatan penduduk Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan World Bank, lebih dari 40 persen penduduk Indonesia hidup dengan pendapatan kurang dari 2 dollar AS per-hari. Dengan minimnya pendapatan itu, pastilah kita tidak akan mampu menabung. Sehingga dengan analisis ekonomi dasar, kita dapat menyatakan bahwa pada masa produktif pun masyarakat Indonesia tidak mampu menabung (bisa sih menabung asalkan kita siap untuk berpuasa selama masa produktif kita, dan itu mustahil untuk dilakukan). Dari sini dapat disimpulkan bahwa baik di masa productive age ataupun lainnya, dilalui sebagian besar masyarakat Indonesia tanpa tabungan atau lebih parah dengan menghutang! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Hipotesis kedua adalah tentang masalah ketidakmerataan distribusi pendapatan di Indonesia. Hal ini merupakan masalah klasik yang sejak dulu selalu menjadi bahasan para ekonom di Indonesia (tapi cuma membahas tanpa mencari solusi untuk mengatasinya!). Apa hubungan ketimpangan distribusi dengan hasil riset ini? Akibat dari ketidakmerataan ini akan menyebabkan besaran kue pendapatan nasional hanya dikuasai oleh segelintir orang. Sejumlah kecil penduduk, dapat berbelanja ke luar negeri, merayakan pesta pernikahan di hotel dan tempat-tempat elit (maklum saya sangat tidak suka dengan pemborosan macam ini), menumpuk tabungan yang tidak habis hingga keturunan ketujuh, etc. Di lain sisi, ada sebagian orang (mungkin saya termasuk dalam kelompok ini) tidak bisa menabung meskipun sudah bekerja dengan maksimal. Sehingga untuk itu perlu dilakukan kebijakan yang revolusioner untuk mengatasi ketidakmerataan ini dengan mengenakan pajak yang sangat-sangat progresif terhadap aktivitas pemborosan dan tidak produktif (misal: kawinan seperti di atas). <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Apa implikasi dari hasil riset saya itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Padahal menurut proyeksi World Bank dan BPS, pada tahun 2025 diperkirakan 13% penduduk Indonesia akan berusia tua (wow…&#8230; dapatkah kita bayangkan bagaimana Indonesia pada tahun tersebut). Pertanyaan dasar yang menjadi konsen utama adalah bagaimana orang-orang jompo (maaf: kata ini sebagai padanan atas orang-orang tua) itu akan membiayai hidupnya. Mungkin alternatif pembiayaan yang selama ini dilakukan adalah bergantung pada anak. Kalo alternatif pembiayaan yang dipilih adalah jenis ini, maka dapat dipastikan bahwa kemiskinan relatif di Indonesia akan bertambah. Karena dengan asumsi pendapatan dan jumlah keturunan si-anak adalah sama dengan orang tuanya, maka sekarang beban si-anak akan sangat jauh lebih berat dari beban orang tuanya. Bener gak? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Alternatif lainnya adalah mengandalkan santunan pemerintah dan masyarakat lain yang dapat dipastikan seikhlasnya (bisa diberikan tapi kayaknya kemungkinan terbesar tidak diberikan untuk semua penduduk kecuali abdi pemerintah yang [maaf] sebagian diantaranya pekerjaannya suka korupsi, bermalas-malasan, dan sejumlah sifat memalukan lainnya). Kalo sebagian besar masyarakat Indonesia mengandalkan pendanaan jenis ini, maka dapat dipastikan pada tahun 2025 jumlah pengemis jompo di jalan-jalan akan bertambah dan tentunya itu akan membuat petugas satpol PP dan dinas sosial semakin berat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Akhirnya hanya ini yang bisa saya simpulkan. Makanya…. rajin-rajinlah belajar, bekerjalah dengan keras agar pendapatan banyak, dan yang lebih penting adalah rajin menabung biar anak dan keturunan kita tidak susah, serta kita dapat menikmati masa tua dengan mesra bersama pasangan. Jangan sekali-kali KORUPSI Saudara! Karena tindakan itu pasti akan membuat orang tua kita malu telah melahirkan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Catatan Selanjutnya: Kemana orang bodoh seperti saya harus meminjam uang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:'Tahoma','sans-serif';">Tulisan ini akan membahas hasil riset terbaru lain yang saya lakukan. Sejumlah lembaga perbankan melakukan diskriminasi terhadap orang yang tidak berpendidikan dalam mengakses kredit. Sebagai antitesis terhadap masalah ini adalah “bukankah koruptor-koruptor dan penungggak dana BLBI adalah orang-orang berpendidikan?” <span> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sungtulodho.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sungtulodho.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sungtulodho.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sungtulodho.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sungtulodho.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sungtulodho.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sungtulodho.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sungtulodho.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sungtulodho.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sungtulodho.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sungtulodho.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sungtulodho.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sungtulodho.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sungtulodho.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sungtulodho.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sungtulodho.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sungtulodho.wordpress.com&amp;blog=1965830&amp;post=3&amp;subd=sungtulodho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sungtulodho.wordpress.com/2007/10/22/bagaimana-masa-tuaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2aa968766d7a21c3d4439d631a5ae893?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Riretna</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
