Kawan,

Aku sudah menghapus semua bukti bahwa kau telah mengenalku, sebagaimana permintaanmu.

Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Kami minta maaf atas semua yang tidak berkenan. Kami tidak bermaksud seperti itu, menjerumuskan teman sendiri. Tidak, tidak seperti itu. Kami juga tidak ingin menyakiti hati dan perasaan orang lain. Kami tak ingin ada yang tersakiti, serta tak ada niatan untuk menjadikan ‘korban’ bagi pihak lain. Andai itu terjadi, kami mohon maaf.

Kami hanya ingin menyuarakan ketidakberesan yang ada, dan mencoba menjadikannya pemicu, agar orang-orang di sini lebih membuka mata mereka akan ketidakberesan tersebut. Sekali lagi mohon maaf, kami tidak bertendensi apa pun.

“Bagi kami KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.”

(more…)

Pada minggu lalu (23/10/2007), di tempat kuliah saya kedatangan seorang guest lecturer, ekonom terkenal dan kandidat nobelis dari Massachusetts Institute of Technology (kampus idaman saya. Saya akan berusaha untuk dapat duduk dan kuliah di sana). Dia datang untuk memberikan kuliah tentang kebijakan ekonomi makro khususnya tentang kebijakan welfare di Eropa. Dalam kuliah tersebut saya mencatat beberapa informasi penting, diantaranya adalah perkataan beliau “Why should government pay subsidies to those parasites and lazy people who do not want to work and who thereby refuse to do their bit for the common good?” Mendengar kata itu, saya langsung terperanjat dan teringat akan nasib orang-orang miskin di Indonesia.

(more…)

Tulisan ini saya buat dini hari waktu Eropa. Saya dedikasikan untuk semua orang yang memilki rasa nasionalisme dan cinta terhadap masa depan Indonesia.

Sedih…… sedih…… dan sedih melihat masa tua kita yang tidak pasti. Sebagian orang mungkin tidak merasa bahwa hidup di Indonesia adalah berdiri pada ketidakpastian akan masa tua kita. Kenapa hal itu bisa terjadi? Tentunya pernyataan ini berdasar bukti dan fakta yang jelas.

(more…)